5 Distro Linux Lokal Buatan Asli Indonesia

  • Bagikan
5 Distro Linux Lokal Buatan Asli Indonesia 5 Distro Linux Lokal Buatan Asli Indonesia

Linux merupakan salah satu contoh hasil pengembangan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka utama. Seperti perangkat lunak bebas dan sumber terbuka lainnya pada umumnya, kode sumber Linux dapat dimodifikasi, digunakan dan didistribusikan kembali secara bebas oleh siapa saja.

Nama “Linux” sendiri berasal dari nama pembuatnya, yang diperkenalkan tahun 1991 oleh Linus Torvalds. Sistemnya, peralatan sistem dan pustakanya umumnya berasal dari sistem operasi GNU, yang diumumkan tahun 1983 oleh Richard Stallman. Kontribusi GNU adalah dasar dari munculnya nama alternatif GNU/Linux. perusahaan komputer ternama seperti Intel, Dell, Hewlett-Packard, IBM, Novell, Orac

Linux telah lama dikenal untuk penggunaannya di server, dan didukung oleh perusahaan le Corporation, Red Hat, dan Sun Microsystems.

Walaupun tidak sepopuler OS Windows, perkembangan Linux sebagai salah satu OS komputer saat ini juga tidak kalah pertumbuhannya. Bahkan, beberapa distro atau distribution Linux yang digunakan masyarakat Indonesia, beberapa di antaranya ternyata buatan lokal asli Indonesia.

Berikut ini adalah lima distro Linux buatan lokal karya anak bangsa atau asli Indonesia yang patut dilihat.

5 Distro Linux Lokal Buatan Asli Indonesia

Oh ya, untuk menggunakan Linux kamu tidak perlu membeli laptop atau komputer baru, cukup dengan sisa ruang harddisk yang memadai maka kamu bisa menggunakan Linux berdampingan dengan OS lamamu. Kamu juga bisa full-migration dengan mengganti OS lama mu dengan OS Linux di laptop kamu. Jadi jangan khawatir mencari laptop baru untuk ganti OS. 

1. BlankOn

Jika mendengar nama distro linux yang satu ini, tentu kamu akan teringat dengan salah satu penutup kepala tradisional khas daerah jawa.

BlankOn sendiri merupakan salah satu distro linux hasil pengembangan dari Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan Tim Pengembang BlankON.

Bisa dikatakan, BlankOn merupakan salah satu distro linux buatan dalam negeri yang paling konsisten dalam melakukan pembaruan atau update.

Baca juga:  Kumpulan Perintah Run Di Windows 10 Yang Tersembunyi

Yang cukup membanggakan, BlankON pernah masuk ke 100 besar Linux dunia.

2. GrombyangOS

Nama GrombyangOS memang terdengar unik. Namun siapa sangka, distro lokal yang dirilis pertama kali pada 2014 ini, dikembangkan secara khusus oleh grOS-TEAM untuk tujuan di bidang pendidikan.

GrombyangOS di build in dengan-aplikasi aplikasi yang dapat menunjang untuk kebutuhan dunia pendidikan, seperti Kalzium, Bkchem, LibreOffice, Kbruch, Othman Qu’ran Browser dan Kgeography.

Untuk bisa menjalankan GrombyangOS, cukup siapkan komputer dengan spesifikasi RAM 512 MB, minimum HDD 20GB dan prosesor intel pentium 3 saja.

3. IGOS Nusantara

IGN atau IGOS Nusantara memang secara khusus dikembangkan oleh pusat penelitian informatika LIPI dan dibantu oleh pengembang sekaligus kontributor dari kalangan komunitas open source di indonesia.

Saat awal pertama kali kemunculan IGOS Nusantara, respons yang diberikan cukup positif. IGN (IGOS Nusantara) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah penggunaan kernel yang lebih andal, tampilan dan penggunaan yang mudah serta dukungan boot untuk perangkat yang menggunakan UEFI.

Baca juga:  Script Web Toko Buku Online Include 8 Template dengan PHP dan MySQL

4. TeaLinuxOS

Jika melihat nama dan lambangnya, distro ini tentu sangat identik dengan “teh”, sebagai salah satu minuman iconic semua lapisan dan golongan masyarakat indonesia.

Sesuai dengan filosofi yang dibawanya, “Nikmatnya Sebuah Racikan!”, TeaLinuxOS berharap agar bisa dinikmati dan mampu memenuhi kebutuhan setiap lapisan dan golongan programmer di indonesia.

Distro lokal yang satu ini merupakan turunan dari Ubuntu. Dikembangkan secara khusus oleh Dinus Open Source Community (DOSCOM), TeaLinuxOS dibangun lebih berfokus pada bidang pemrograman.

5. DesaOS

DesaOS dibuat secara khusus sesuai dengan kebutuhan masyarakat pedesaan. Selain karena spesifikasi komputer yang dibutuhkannya tergolong rendah, tampilan dan penggunaannya yang simple juga membuat mudah dioperasikan.

Sistem Informasi Desa (SIDESA 2.0) digunakan untuk keperluan tata kelola pemerintahan desa dalam melayani warganya agar dapat lebih efisien, cepat dan tepat.

Sedangkan Sistem Komunikasi Antar Rakyar (SIKomAr) merupakan aplikasi panggilan telepon secara gratis menggunakan jaringan.

  • Bagikan