Mau Jadi Software Tester (QA)? Yuk Ketahui Beberapa Jenis Pengujian Sistem

  • Bagikan
Mau Jadi Software Tester (QA)? Yuk Ketahui Beberapa Jenis Pengujian Sistem Software Tester

Pengujian Sistem atau Testing adalah pengujian program software yang lengkap dan terintegrasi. Testing dilakukan oleh seorang Software Tester atau biasa juga disebut Quality Assurance (QA) untuk memastikan kualitas dari suatu sistem atau software.

Nah, berikut ini adalah beberapa jenis pengujian yang perlu diketahui oleh seorang Software Tester atau QA pada sebuah software, simak yuk!

1. System Testing

System Testing adalah pengujian untuk memastikan bahwa keseluruhan sistem telah berfungsi dan bahwa sistem telah memenuhi persyaratan pengguna (user requirement). System testing biasanya dilakukan di akhir setiap iterasi untuk mengidentifikasi isu-isu penting,

Seperti masalah performance dari sebuah software. Biasanya tes ini harus dilakukan sesering mungkin agar dapat memastikan semua sistem bekerja dengan baik.

Baca juga:  Mengenal Design Pattern Secara Singkat

2. Unit Testing

Unit Testing adalah pengujian software dimana QA menguji suatu unit program layak untuk tidaknya dipakai. Unit testing ini fokusnya pada pengujian unit yang terkecil pada desain perangkat lunak komponen atau modul perangkat lunak. 

3. Integration Testing

Berbeda dengan unit testing, Integration Testing adalah pengujian dari hasil penggabungan unit-unit yang ada di dalam software. Biasanya QA menguji bagaimana unit-unit tersebut sebagai suatu kombinasi, bukan lagi sebagai suatu unit yang individual.

Integration testing sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk menghindari kesulitan penelusuran jika terjadi kesalahan error atau bug.

4. Usability Testing

Usability Testing adalah pengujian yang dilakukan untuk memastikan apakah software sudah sesuai dengan persyaratan dari pengguna. Pada umumnya usability test mengevaluasi persyaratan fungsional program dan kualitas dari user interface.

User berinteraksi dengan sistem untuk menentukan apakah fungsi telah seperti yang diharapkan dan apakah user interface membuat sistem dapat mudah digunakan. Pengujian ini sering dilakukan untuk mendapatkan feedback yang cepat dalam meningkatkan interface dan mengoreksi kesalahan dalam komponen perangkat lunak.

Baca juga:  Rekomendasi Aplikasi Untuk Membuat Flowchart

5. Performance Testing

Performance Testing adalah integration dan usability test yang menentukan apakah sistem dapat memenuhi kriteria kinerja berbasis waktu seperti response time atau throughput. Response time menentukan batas waktu maksimum yang diijinkan dari respon software.

6. Smoke Testing

Smoke Testing adalah pengujian yang akan dilakukan setelah software yang dibuat untuk memastikan bahwa fungsi-fungsi penting dari program tersebut bekerja dengan baik. Smoke test biasanya dilakukan setiap hari atau beberapa kali per minggu.

7. Stress Testing

Stress Testing adalah pengujian yang biasanya dilakukan dalam membuat sebuah website, dimana stress testing dilakukan untuk mengetahui sekuat apa server website kita menampung visitor dalam website tersebut, dengan cara melakukan hit dummy ke website menggunakan tools.

Baca juga:  Inilah Kisah Dibalik Terbentuknya Hello World

8. Sanity Testing

Sanity Testing adalah software testing yang akan dilakukan setelah software yang dibuat sudah hampir jadi sekaligus fungsi-fungsi lengkapnya yang sudah jadi, dengan catatan bug-bug yang ditemukan pada saat smoke testing sudah berhasil diperbaiki.

Tujuan dari sanity testing ini tentunya untuk memastikan bahwa bug-bug yang telah diperbaiki pada saat smoke testing sudah selesai diperbaiki dan tidak ada masalah lebih lanjut serta untuk menentukan bahwa fungsi yang diinginkan bekerja seperti yang diharapkan.

9. Regression Testing

Regression Testing adalah jenis pengujian yang dilakukan saat mengembangkan software untuk mengetahui apakah fungsional sistem berjalan dengan baik. Singkatnya, tujuan utamanya yaitu untuk meminimalisir bug yang mungkin akan muncul setelah adanya pembaharuan fitur pada software.

  • Bagikan