Mengenal Istilah Buzzer, Cara Kerja dan Dampak Negatif

  • Bagikan
Mengenal Istilah Buzzer, Cara Kerja dan Dampak Negatif Buzzer

Istilah buzzer sebenarnya sudah ada lama. Tapi memang makin masif dengan kehadiran media sosial. Sebenarnya awalnya memang untuk memasarkan produk maupun jasa. Belakangan malah lebih dikenal ‘memasarkan’ produk politik. Kok bisa?

Apa itu Buzzer?

Dalam bahasa Inggris, buzzer diartikan sebagai lonceng, bel, atau alarm. Menurut Centre for Innovation Policy and Governance, buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu.

Buzzer mulanya digunakan untuk promosi produk karena strategi word of mouth dianggap efektif. Awalnya buzzer bersifat sukarela dan tidak terorganisir, tetapi kini aktifitas ini mulai diorganisir dan menciptakan uang.

Karakter yang dimiliki Buzzer

  • Memiliki jaringan luas (memiliki akses ke informasi penting)
  • Persuasif
  • Memiliki kemampuan memproduksi konten
  • Digerakkan dengan motif tertentu (bayaran atau sukarela)
Baca juga:  5 Fakta Menarik Dari Game Dinosaurus Pada Google Chrome

Mengapa Buzzer identik dengan Politik?

Strategi buzzer pertama kali digunakan dalam dunia politik oleh pasangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta 2012 melalui 1.000 relawan media sosial yang tergabung dalam Jokowi Ahok Social Media Volunteers (JASMEV).

Sejak saat itu, kontestasi politik dari Pilkada hingga Pilpres selalu diramaikan oleh buzzer.

Bagaimana Cara Kerja Buzzer?

Mengenal Istilah Buzzer, Cara Kerja dan Dampak Negatif arti buzzer

1. Media Sosial

  • Menggunakan akun “bot” untuk menciptakan trending topic.
  • Menggunakan tagar.
  • Memancing keterlibatan audiens dengan cara menempatkan dua atau lebih akun untuk terlibat dalam sebuah percakapan, dimana satu akun akan bertindak sebagai pihak yang mendukung, sedangkan lainnya menjadi pihak yang kontra terhadap topik percakapan.
  • Menyematkan berita dari portal berita agar meningkatkan kredibilitas konten
  • Memanfaatkan jaringan yang dimiliki buzzer dan aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp dan Telegram untuk menyebarkan konten.
Baca juga:  Ternyata Begini Penampakan Kertas Setelah Di Zoom 100 Kali

2. Aplikasi Pesan Singkat

Para buzzer ini biasanya tergabung dalam banyak grup aplikasi pesan seperti WhatsApp dan Telegram yang memiliki lebih dari ratusan anggota. Jaringan ini membantu pesan atau konten hingga menjadi viral.

Twitter jadi rumah para Buzzer?

Kebangkitan internet dan sosial media membuat aktor politik lebih “hadir” dan “dekat” dengan pemilihnya. Presensi partai politik, institusi publik, dan pemerintah di sosial media jadi standar baru. Twitter bahkan dijadikan media untuk berinteraksi langsung antara government-to-citizen dan government-to-goverment.

Umumnya, cara kerja buzzer di Twitter menerapkan prinsip word of mouth sebagai cara beriklan yang efektif untuk mempersuasi khalayak hingga menjadi trending topic.

Dibandingkan dengan media sosial lain, Twitter memang lebih terbuka untuk mengakses informasi, Twitter juga dianggap sebagai media sosial yang tepat untuk mengekspresikan pendapat.

Bagaimana Merekrut Buzzer?

1. Scouting

  • Koordinator buzzer memantau akun media sosial yang aktif.
  • Kemudian diseleksi.
  • Akun terpilih dimasukkan ke dalam grup chart I, biasanya memanfaatkan WhatsApp dan Telegram.
  • Seleksi akun tahap kedua di grup chart I. Akun yang paling aktif dimasukkan ke grup chart II.
  • Individu dengan akun paling aktif yang sudah terjaring di grup II diundang dalam pertemuan tatap muka dengan koordinator buzzer.
  • Buzzer terpilih.
Baca juga:  Mengenal Kisah Tentang 3 Kerajaan Korea

2. Pendekatan langsung ke buzzer

Agensi komunikasi sudah memetakan buzzer dan melakukan pendekatan langsung. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui layanan seperti Sociabuzz dan Go-Viral.

3. Membuka lowongan

Agensi atau biro komunikasi mengumumkan ada lowongan untuk menjadi buzzer produk atau isu dan topik tertentu.

Dampak Negatif Buzzer

  • Menurunkan kualitas ruang publik dan demokrasi apabila berlangsung berkepanjangan.
  • Mengaburkan batas antara aspirasi publik yang autentik dengan aspirasi rekaan.
  • Tidak jarang buzzer mengundang ujaran kebencian dan memicu adanya polarisasi.

Cara Mengatasi Dampak Negatif Buzzer

Selalu cek fakta dan verifikasi informasi. (narasitech)

  • Bagikan